Gambaran Hasil DCT Positif Terhadap Reaksi Transfusi pada Pasien CKD di RSUD Tarakan Jakarta April-Mei 2022
Latar Belakang: Semakin meningkatnya jumlah pasien CKD yang melakukan transfusi darah, dan melakukan transfusi berulang akan menyebabkan pembentukan aloantibodi karena adanya antigen yang berbeda masuk ke dalam tubuh penderita. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil: Pasien CKD yang melakukan transfusi darah pada April-Mei 2022 didapat 105 pasien, yang memiliki hasil DCT negatif didapat 85 pasien (81%), dengan hasil mayor positif dua pasien (1,9%), dan DCT positif didapat sebanyak 18 pasien (17,1%). Pasien dengan hasil DCT positif didapat satu pasien (5,56%) pada usia 17-25 tahun, usia 26-35 tahun ada empat pasien (22,22%), usia 36-45 tahun ada lima pasien (27,78%), usia 46-55 tahun ada dua pasien (11,11%), usia 56-65 tahun ada empat pasien (22,22%), dan >65 tahun ada dua pasien (11,11%). Pada jenis kelamin perempuan didapat enam pasien (66,7%) dan 12 pasien (55,56%) berjenis kelamin laki-laki. Pasien dengan satu kali transfusi didapat dua pasien (11,11%) dan 16 pasien (88,89%) melakukan transfusi lebih dari satu kali. Seluruh pasien dengan hasil DCT positif tidak mengalami reaksi transfusi. Pembahasan: Untuk mengetahui presentase hasil DCT positif terhadap reaksi transfusi pada pasien CKD di RSUD Tarakan Jakarta berdasarkan usia, jenis kelamin dan frekuensi transfusi. Simpulan: Pasien CKD yang memiliki hasil DCT positif didapat sebanyak 18 pasien (17,1%). Dengan pasien terbanyak didapat pada usia 36-45 tahun yaitu 5 pasien (27,78%), 12 pasien (55,56%) berjenis kelamin laki-laki dan 16 pasien (88,89%) melakukan transfusi lebih dari satu kali. Tidak terjadi reaksi transfusi pada pasien CKD yang memiliki hasil DCT positif.
Detail Information
Citation
. (2022).Gambaran Hasil DCT Positif Terhadap Reaksi Transfusi pada Pasien CKD di RSUD Tarakan Jakarta April-Mei 2022.(Electronic Thesis or Dissertation). Retrieved from https://localhost/etd