Analisis Kejadian Reaksi Transfusi Akut pada Resipien Post Transfusi Darah di RSUD Tarakan Jakarta Tahun 2019
Transfusi darah merupakan salah satu jenis terapi yang dilakukan dengan pemberian darah atau komponen darah dari donor ke resipien. Reaksi transfusi akut berdasarkan kategori reaksi (ringan, sedang sampai berat dan membahayakan nyawa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah kejadian reaksi transfusi pada resipien paska transfusi darah di RSUD Tarakan Jakarta tahun 2019. Metode yang digunakan berupa analisis deskriptif melalui perhitungan jumlah resipien paska transfusi darah di RSUD Tarakan Jakarta. Hasil penelitian dari 16.394 kantong darah yang ditransfusikan selama tahun 2019, terdapat kejadian reaksi transfusi sebanyak 18 kasus (0.001%). Reaksi transfusi pada resipien wanita sebanyak 11 (61%) dan pria sebanyak 7 (39%). Jumlah reaksi transfusi pada komponen PRC sebanyak 7 (39%) dan TC sebanyak 11 (61%) . Gejala klinis yang terjadi berupa kulit gatal-gatal sebanyak 4 resipient (24%), kulit gatal dan bentol sebanyak 5 resipient (28%), kulit gatal, demam, bentol dan kemerahan sebanyak 6 resipient (33%), demam sebanyak 1 resipient (5%), menggigil sebanyak 1 resipient (5%), dan sesak nafas sebanyak 1 resipient (5%). Kesimpulan pada penelitian ini adalah reaksi transfusi yang terjadi di RSUD Tarakan Jakarta selama tahun 2019 sebayak 18 kasus (0.001%). Reaksi yang terjadi berupa reaksi imun akut yang dipantau perawat beberapa jam setelah proses transfusi. Kategori reaksi transfuse akut yang terjadi berdasarkan reaksi ringan sebanyak 9 (50%), sedang sampai berat 8 (45%) dan yang membahayakan nyawa 1 (5%). Lebih
banyak terjadi pada resipien wanita dibandingkan laki- laki, dengan kelompok usia terbanyak adalah 15 - 35 tahun. Jenis komponen darah terbanyak adalah TC.
Detail Information
Citation
. (2020).Analisis Kejadian Reaksi Transfusi Akut pada Resipien Post Transfusi Darah di RSUD Tarakan Jakarta Tahun 2019.(Electronic Thesis or Dissertation). Retrieved from https://localhost/etd